
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan, sebanyak 95 persen sekolah penerima program revitalisasi sudah merampungkan pembangunan. Total jumlah penerima program ini mencapai 16.171 satuan pendidikan.
“Tahun ini sampai saya pidato sekarang ini dari 16.171 itu, 95 persen sudah selesai dibangun yang kita harapkan di akhir bulan Januari tahun ini seluruhnya sudah selesai 100 persen atau dalam bahasa lain sudah tuntas,” kata Mu’ti dalam acara Peresmian Revitalisasi Sekolah Kabupaten Garut, di SMK Al-Musaddadiyah, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Kamis (8/1/2026), disiarkan di kanal YouTube Kemendikdasmen.
71.600 Sekolah Akan Direvitalisasi
Dalam sambutannya, Mu’ti meneruskan pesan dari Presiden Prabowo Subianto. Ia mengatakan, Prabowo sudah menambah jumlah sekolah yang menjadi target revitalisasi yakni sebanyak 11.400 lebih
“Dan insyaallah sesuai dengan komitmen Bapak Presiden, tahun depan akan ditambah lagi sasaran revitalisasinya, yang sudah ada dalam anggaran tahun 2026 adalah revitalisasi untuk 11.400 sekian satuan pendidikan,” katanya.
Sebelumnya, pada momen Hari Guru Nasional, November 2025 lalu, Prabowo menargetkan sebanyak 60 ribu sekolah akan direvitalisasi tahun ini. Dengan tambahan tersebut, target baru sekolah yang direvitalisasi bertambah menjadi sekitar 71.400 sekolah.
“Sehingga insyaallah, kalau nanti anggarannya sudah tersedia, kita akan melakukan revitalisasi untuk 71.400 sekian satuan pendidikan di seluruh Indonesia,” kata Mu’ti.
Revitalisasi Bisa Rampung Perteng
Mu’ti berharap agar penerima revitalisasi tahun 2026 dapat menyelesaikan revitalisasi dengan cepat. Menurutnya, tak menutup kemungkinan sekolah dapat selesai pada tahun ajaran baru 2026/2027 atau sekitar pertengahan tahun ini.
“Kalau anggaran 2026 sudah bisa kita pergunakan pada bulan Februari, tahun 2026 ini, maka sekolah-sekolah yang mendapatkan revitalisasi di 2026 insyaallah sudah bisa selesai sebagiannya pada tahun ajaran baru 2026/2027,” katanya.
Mu’ti melihat, dengan sistem swakelola yang diterapkan, sekolah bisa lebih cepat dan efektif merampungkan pembangunan. Begitu juga dalam pelaporan anggaran, menurutnya lebih jelas dan transparan.
“Karena dengan sistem swakelola, sekarang ini kita jadikan sebagai model baru dalam revitalisasi. Kami melakukan evaluasi ternyata penyelesaian pembangunannya bisa lebih tepat waktu, kemudian yang kedua lebih efisien, kemudian yang ketiga lebih bagus hasilnya, dan yang keempat lebih akuntabel laporan keuangannya,” katanya.
